 |
| Local photo 2025 by. Eep, momentum panen |
Pohon sederhana yang menjadi benteng ekologi.
Saat alam butuh penjaga, ia tak bersuara…
tetapi selalu ada.
----------
Di tengah lanskap yang kian tergerus, sukun berdiri sebagai penjaga sunyi ekologi. Akarnya menembus tanah, memeluk bumi agar tak runtuh, menahan erosi yang perlahan menggerogoti kehidupan. Daunnya yang lebar membentang seperti payung alam, meredam panas, menurunkan suhu, dan memberi ruang bagi makhluk kecil untuk berlindung.
Ketika hujan turun deras, sukun tidak berlari. Ia bertahan. Batangnya menyerap, tanah di sekitarnya mengikat air, menghidupkan kembali mikroorganisme yang menjaga kesuburan. Di bawah kanopinya, tanah bernapas—lebih lembap, lebih hidup. Burung singgah, serangga datang, rantai kehidupan kembali teranyam.
Buahnya jatuh bukan sekadar menjadi pangan, tetapi energi yang mengalir dalam siklus alam. Yang tersisa kembali ke tanah, menjadi nutrisi, menjadi janji bagi musim berikutnya. Sukun mengajarkan keseimbangan: memberi tanpa menguras, tumbuh tanpa merusak.
Di saat manusia lupa cara hidup berdamai dengan alam, sukun tetap menjalankan perannya—diam, teguh, dan setia. Ia bukan hanya pohon pangan, melainkan penyangga ekosistem, saksi bahwa keberlanjutan selalu berakar pada kesederhanaan.
red. kontributor